Recent Posts

LightBlog

Breaking

Senin, 27 Oktober 2014

Iman Kepada Allah SWT

A.  Pengertian Iman Kepada Allah SWT

Kata iman berasal dari bahasa Arab yang artinya percaya. Sedangkan menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan (perbuatan). Dengan demikian, iman kepada Allah adalah membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaan Nya, kemudian pengakuan ini diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara nyata. Jadi, seseorang dapat dikatakan
sebagai mukmin (orang yang beriman) sempurna apabila memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Apabila seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, maka orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Sebab, ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat dipisahkan.Beriman kepada Allah sebagai Khaliq merupakan rukun iman yang pertama.Pembuktian adanya Allah SWT dapat dilakukan dengan 2 cara :

    Dalil AQli ( menggunakan akal ), contoh melihat ciptaan-Nya
    Dalil NaQli ( menyakini Al Qur’an dan Hadits Nabi Muhammad SAW )

B.  Sifat-sifat Allah SWT

Sifat sifat Allah SWT ada 3 jenis, yaitu :

    Sifat Wajib, yaitu sifat-sifat yang pasti dimiliki oleh Allah SWT
    Sifat Mustahil, yaitu sifat yang tidak mungkin dimiliki oleh Allah

SWT
    Sifat Jaiz, yaiu sifat yang serba mungkin bagi Allah sesuai dengan kehendak-Nya.

Sifat Wajib Allah SWT :

1.   Allah SWT bersifat wujud

Wuj-ud berarti ada. Lawannya adalah ‘adam , yang berarti tidak ada. Untuk membuktikan adanya Allah, antara lain bisa kita lakukan dengan memerhatikan alam yang ada di sekitar kita. Semua benda, manusia, binatang, langit, bumi, dan segala isinya tentu ada yang menciptakan.

Mustahil benda-benda itu muncul dengan sendirinya. Firman Allah: Artinya: Dan Dialah yang telah menciptakan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati nurani, tetapi sedikit sekali kamu bersyukur. Dan Dialah yang menciptakan dan mengembangbiakkan kamu di muka bumi ini dan kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan Dialah yang menghidupkan dan mematikan, dan Dialah yang (mengatur) pergantian malam dan siang.Tidakkah kamu mengerti? (Q.S. al-Mu’min- un [23]: 78–80)

Allah itu ada dengan Zat-Nya sendiri, mustahil bagi Allah jika Allah tidak ada. Meskipun tidak kelihatan, Allah ada untuk selama-lamanya. Allah merupakan zat gaib yang tidak dapat kita lihat dengan alat

indra. Sesuatu yang tidak kelihatan bukan berarti tidak ada. Contoh,

nyawa. Setiap orang termasuk kamu pasti yakin bahwa nyawa itu ada,

walaupun belum pernah melihat bentuknya dan merabanya.Begitu juga

dengan udara. Semua itu ada dan pengaruhnya juga dapat dirasakan

2. Allah SWT bersifat Qidam ( Terdahulu )

Qid-am artinya dahulu. Lawannya adalah hudus  artinya baru. Allah

tidak berpermulaan. Sesuatu yang memiliki permulaan, yaitu dari tidak

ada menjadi ada, berarti baru. Sesuatu yang baru berarti makhluk.

Sedangkan Allah bukan makhluk, melainkan Kh-aliq (Pencipta).

Firman Allah:



Artinya: Dialah Yang Awal, Yang Akhir, Yang Zahir dan Yang Batin, dan

Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. al-Hadid [57]: 3)

Dahulunya Allah tidak seperti dahulunya makhluk. Dahulunya makhluk itu

ada permulaannya, yaitu didahului oleh keadaan tidak ada, lalu menjadi

ada. Sedangkan Allah, tidak didahului oleh tidak ada lalu menjadi ada,

tetapi sejak dahulu sudah ada dan tanpa permulaan. Oleh karena itu,

manusia tidak akan mampu memikirkan kira-kira kapan Allah itu mulai

ada. Sebab, Allah itu ada sebelum waktu itu sendiri ada.

3. Allah SWT bersifat Baqa ( Kekal )

Baqa – ‘ artinya kekal, abadi, dan langgeng selamanya. Lawannya adalah

fana.  artinya rusak, binasa, dan ada batas akhirnya. Semua ciptaan

Allah mempunyai kelemahan, perubahan, perkembangan, dan akhirnya

musnah tidak ada lagi. Sifat-sifat makhluk tersebut tidak kekal.

Sedangkan Allah yang menciptakan makhluk akan tetap ada selama-

lamanya, sekalipun semua makhluk telah hancur binasa. Inilah makna

dari sifat wajib bagi Allah, yaitu baqa-’. Hal ini ditegaskan oleh

Allah dalam firman-Nya:



Artinya: Semua yang ada di bumi itu akan binasa, tetapi wajah Tuhanmu

yang

memiliki kebesaran dan kemuliaan tetap kekal. (Q.S. ar-Ra.hm-an [55]:

26–27)

4. Allah SWT bersifat Mukhalafatul lil hawadisi ( berbeda dengan

makhluk Nya )

Allah memiliki sifat wajib mukha-lafatu lil-hawadisi, artinya Allah

berbeda dengan semua yang baru (makhluk). Sifat mustahilnya atau

lawannya adalah mumasalatu lil hawadisi. yang berarti mustahil bagi

Allah serupa dengan makhluk-Nya.Allah berbeda dengan makhluk-Nya dalam

semua hal, baik zat, sifat, perbuatan, ucapan, dan sebagainya. Sebagai

pencipta, Allah pasti berbeda dengan ciptaan-Nya. Sebagai contoh,

seorang pembuat pesawat tidak mungkin sama dengan pesawat yang

dibuatnya. Pembuat meja, kursi, papan tulis, dan sebagainya pasti

tidak sama dengan benda-benda ciptaannya itu.

5. Allah SWT bersifat Qiyamuhu binasihi / berdiri sendiri,

Allah memiliki sifat wajib mukha-lafatu lil-hawa disi, artinya Allah

berbeda dengan semua yang baru (makhluk). Sifat mustahilnya atau

lawannya adalah mumasalatu lil hawadisi. yang berarti mustahil bagi

Allah serupa dengan makhluk-Nya.Allah berbeda dengan makhluk-Nya dalam

semua hal, baik zat, sifat,perbuatan, ucapan, dan sebagainya. Sebagai

pencipta, Allah pasti berbeda dengan ciptaan-Nya. Sebagai contoh,

seorang pembuat pesawat tidak mungkin sama dengan pesawat yang

dibuatnya. Pembuat meja, kursi, papan tulis, dan sebagainya pasti

tidak sama dengan benda-benda ciptaannya itu.



“ Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang

hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya”         ( Q.S.

Ali Imran ayat 2 )

6. Allah SWT bersifat Wahdaniyah ( Esa )

Allah bersifat wa.hd-aniyyah, artinya bahwa Allah Maha Esa, tidak ada

sekutu-Nya. Sifat mustahilnya adalah ta‘addud ( ), yang berarti

berbilang atau lebih dari satu. Keesaan Allah itu mutlak, artinya

Allah Esa dalam sifat dan perbuatan.Esa zat-Nya artinya tidak karena

hasil penjumlahan, perkalian, atau segala perhitungan dari macam-macam

unsur. Esa sifat-Nya berarti bahwa sifat-sifat kesempurnaan bagi Allah

tidak dapat dipersamakan dengan sifat-sifat yang ada pada Esa

perbuatan-Nya, berarti bahwa Allah adalah satu-satunya yang mengatur,

menguasai, memelihara alam beserta isinya, dan dalam perbuatannya

tersebut tidak dicampuri oleh siapa pun juga. Tentang keesaan Allah

ini antara lain tertera dalam Al-Qur’an:

“ Katakanlah: “Dia-lah Allah, yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang

bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula

diperanakkan,  Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia.”      

                                                ( Q.S. Al Ikhlas ayat

1 – 4

7.   Allah SWT bersifat Qudrat ( Kuasa )

Allah bersifat qudrat, artinya Mahakuasa atau yang memiliki

kekuasaan.Kekuasaan Allah itu mahasempurna, tidak terbatas, dan

mutlak. Bahkan,kekuasaan dan kekuatan yang dimiliki makhluk,

sesungguhnya adalah anugerah Allah. Jika Allah menghendaki kekuasaan

yang ada pada makhluk tersebut dicabut, maka saat itu juga akan hilang

dan tidak ada seorang pun yang dapat mencegah atau menghalangi

kehendak Allah, sebagaimana firman-Nya:

Artinya: ”. . . . Sungguh Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Q.S.

al-Baqarah

[2]: 20).

Lawan dari sifat qudrat atau sifat mustahilnya adalah ‘ajzun ( ), yang

artinya lemah. Allah Mahakuasa dan tidak mungkin lemah. Jika Allah

lemah,tentu tidak akan mampu menciptakan langit dan bumi beserta

isinya yang begitulengkap dan sulit. Jika Allah tidakMaha kuasa,

bagaimana mungkin dapatmenciptakan manusia hanya dari setetes air?

Bagaimana mungkin menciptakanberbagai jenis buah-buahan yang segar-

segar, dan sebagainya?

8. Allah SWT bersifat Iradat ( Berkehendak )

Allah bersifat ir-adat artinya mempunyai kehendak dan dapat melakukan

apa saja yang dikehendaki-Nya. Sifat mustahilnya adalah karahah, yang

berarti terpaksa. Mustahil bagi Allah merasa terpaksa dalam

melaksanakan semua kehendak-Nya. Allah Maha Berkehendak, Dia pasti

berbuat atas kehendak sendiri tanpa ada kekuatan lain yang mampu

memaksa-Nya. Manusia juga mempunyai kehendak. Tetapi, untuk mencapai

kehendak tersebut manusia sering dipengaruhi, dibantu, bahkan

ditentukan oleh pihak pihak lain. Yang pasti, kehendak dan keinginan

manusia berada di bawah kendali kehendak Allah. Allah-lah yang

menentukan apa yang terjadi atas diri manusia. Jika Allah menghendaki

sesuatu atas makhluk-Nya, maka pasti akan terjadi.

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila dia menghendaki sesuatu hanyalah

Berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia.                     

        ( Q.S. Yasin ayat 82 )



9. Allah SWT bersifat Ilmu ( Mengetahui )

Allah bersifat ‘ilmu, artinya Allah wajib bersifat pandai atau

mengetahui.Pengetahuan dan kepandaian Allah tidak terbatas. Allah

mengetahui segalanya, kecil besar, jauh dekat, tanpa dibatasi oleh

ruang dan waktu. Sifat mustahilnya adalah jahlun ( ), artinya mustahil

Allah bersifat bodoh. Jika Allah bersifat bodoh, tentu tidak akan

mampu menciptakan keteraturan alam. Allah yang menciptakan sesuatu,

Dia pulalah yang mengatur dan mengetahuinya.

Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan

Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. ( Q.S. Al Hujurat ayat 18 )

10. Allah SWT bersifat Hayat ( Hidup )

Allah bersifat .hay-at, artinya hidup. Hidup Allah tidak berpermulaan

dan tidak berkesudahan. Dia tidak pernah mengantuk, tidak pernah

tertidur, apalagi mati. Itulah bedanya dengan hidupnya manusia. Allah

hidup dengan sendirinya, tanpa ada yang menghidupkan. Sedangkan

manusia dihidupkan oleh Allahdengan memberikannya nyawa. Sifat

mustahil atau lawan dari sifat .hayat adalah maut , yang berarti mati.

Apabila Allah mati, maka langit, bumi, bintang-bintang, serta yang

lain pasti akan mengalami kekacauan, saling bertabrakan dan

sebagainya, sebab pengaturnya telah tiada. Allah tidak pernah mati,

Dia hidup selama-selamanya.

Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan dia yang hidup

kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan

tidak tidur. ( Q.S. Al Baqarah ayat 255 )

11. Allah SWT bersifat Sama ( Mendengar )

Allah wajib bersifat sama‘ artinya mendengar. Sifat mustahilnya adalah

summun, artinya tuli. Pendengaran Allah itu sempurna dan tidak

terbatas.Allah dapat mendengar semua jenis suara, baik yang gaib

maupun terang, baik yang dekat maupun jauh. Bahkan Allah dapat

mendengar bisikan hati manusia.

dan Allah-lah yang Maha mendengar lagi Maha Mengetahui (Q.S. Al Maidah

: 76)

Pendengaran Allah tidak sama dengan pendengaran manusia. Manusia

mendengar dengan menggunakan alat, yaitu telinga yang diberikan Allah.

Tidak semua suara dapat didengar oleh manusia. Sedangkan Allah

mendengar dengan pendengaran-Nya yang sempurna. Jika seluruh manusia

yang ada di bumi secara bersamaan memohon kepada Allah, maka semua

permohonan tersebut pasti didengar-Nya, walaupun permohonan itu hanya

dengan bisikan batin.

12. Allah SWT bersifat Basar

Allah bersifat ba.sar, artinya Maha Melihat. Sifat mustahilnya yaitu

‘umyun , yang berarti buta. Allah telah menciptakan makhluk-Nya dapat

melihat. Maka pastilah Dia sendiri mempunyai sifat Maha Melihat.

Segala sesuatu yang terjadi di alam ini tidak terlepas dari

penglihatan Allah. Oleh karena itu, manusia harus berhati-hati dalam

berbuat. Allah berfirman:

..” Sesungguhnya dia Maha melihat segala sesuatu “ ( Q.S. Al Mulk ayat

19 )

13. Allah SWT bersifat Kalam

Allah bersifat kal-am, artinya Allah mampu berfirman atau berbicara.

Sifat mustahilnya adalah bukmun, artinya bisu. Allah menciptakan

manusia di bumi agar mereka dapat mengolah dan memakmurkannya. Untuk

kepentingan ini, Allah telah menurunkan petunjuk dan pedoman bagi

manusia berupa wahyu seperti Al-Qur’an serta kitab-kitab

lainnya.Inilah bukti bahwa Allah memiliki sifat kal-am (berbicara).

Berbicaranya Allah tentu tidak sama dengan cara berbicaranya manusia.

Bagaimana Allah berbicara? Hal itu berada di luar jangkauan kemampuan

akal manusia. Yang jelas, sebagai orang mukmin kita wajib meyakini

kebenaran sifat Allah tersebut

.. Allah Telah berbicara kepada Musa dengan langsung  ( Q.S. An Nisa :

164 )

 C.  Fungsi Iman Kepada Allah SWT, antara lain :

    Dapat menentramkan hati manusia ( Q.S. Ar Radu ayat 28 )x
    Mendatangkan keuntungan / kebahagian hidup ( Q.S. Al Asr ayat 1 –

3 )
    Dapat menyelematkan hidup manusia dunia dan akhirat

Tambahan :

    Untuk Lembar Kerja Siswa  Iman Kepada Allah SWT, dapat dilihat  ..

disini ..   !
    Sedangkan untuk soal latihan dapat dilihat disini !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Adbox